Jumat, 17 Oktober 2014

Kaum Marjinal


    Istilah 'Marjinal' pertama kali saya dengar dari seorang kawan yang merupakan kakak tingkat saya di kampus. Dia sudah wisuda dan juga merupakan slankers. Kalau tidak salah, kalimatnya yang mengungkit tentang marjinal adalah seperti ini. "Aku tidak PD jika harus berpakaian rapi, tapi anehnya aku malah lebih PD jika berpakaian seperti ini, slengean dan tidak rapi. Pakaian ini melambangkan kaum marjinal, dan aku sangat bangga memakainya."

Definisi Operasional Marjinal

    Dalam pikiran, aku mulai bertanya-tanya tentang unknown word yang baru kudengar itu. Sebagai seorang mahasiswa English Department yang telah diajari tentang context (walaupun masih remidi :D) aku mencoba mengira-ngira arti dari 'marjinal'. Dalam pikiranku saat itu mungkin marjinal adlh istilah untuk orang-orang bawah atau disebut juga wong kere. Setelah beberapa lama, aku kembali tertarik untuk mengetahui tentang marjinal ini. Pengertian diatas adalah pengertian yang saya buat sendiri, atau bahasa kerennya disebut definisi operasional.


Pengertian Marjinal

    Sekarang mari kita bandingkan antara definisi operasional tadi dengan definisi dari kamus dan beberapa sumber. Marjinal berasal dari bahasa inggris 'marginal' yang berarti jumlah atau efek yang sangat kecil. Artinya, marjinal adalah suatu kelompok yang jumlahnya sangat kecil atau bisa juga diartikan sebagai kelompok pra-sejahtera. Marjinal juga identik dengan masyarakat kecil atau kaum yang terpinggirkan.

Jadi kaum marjinal adalah masyarakat kelas bawah yang terpinggirkan dari kehidupan masyarakat. contoh dari kaum marjinal antara lain pengemis, pemulung, buruh, petani, dan orang-orang dengan penghasilan pas-pasan atau bahkan kekurangan. Mereka ini adalah bagian tak terpisahkan dari negara kita.

Derita Kaum Marjinal

    Seperti halnya pada pengertian di atas, kaum marjinal seringkali terpinggirkan dalam ranah sosial. Banyak sekali contoh yang mengungkapkan penderitaan kaum marjinal yang diberikan oleh kalangan-kalangan atas. Seorang pemulung pada siang hari menggotong putrinya yang berumur 3 tahun. Putrinya meninggal dunia akibat muntaber yang tidak diobati. Dibawa ke rumah sakitpun percuma, yang didapat oleh si pemulung itu hanyalah surat kwitansi pembayaran yang tidak sanggup ia bayar. Mengurusi pemakaman putrinya juga tak mampu ia lakukan. Biaya untuk pemakaman ia tak punya.

    Kisah tersebut bukan hal yang baru di kota-kota besar seperti Jakarta. Pelayanan yang kurang memadai bagi kaum marjinal sudah menjadi barang biasa di negeri ini. Kaum marjinal semakin melarat di perkotaan. Katakanlah jika di desa mereka masih bisa hidup lebih baik karena konsep persaudaraan di desa cukup terjaga (walaupun tidak semuanya seperti itu).

Kaum Marjinal adalah Seorang Petarung

    Walaupun identik dengan derita seperti di atas, kaum marjinal juga identik dengan kerja keras dan semangat tinggi. Katakanlah seorang anak kecil yang harus berjuang untuk membiayai sekolahnya dengan berjualan koran di pagi buta. Sementara pada sore hari ia harus membantu ayahnya untuk mencari receh demi receh untuk membeli beras.

    Seorang perempuan yang sedang hamil 5 bulan menjadi kernet di salah satu angkutan umum. Dengan lihainya ia memanggil para penumpang dengan kondisi tubuh yang tidak optimal. Pengamen jalanan yang tiap hari harus berkutat dengan panasnya ibukota. Dengan bermodal tekad dan keberanian menghadapi trantip yang siap meringkus mereka, para pengamen ini tetap melantunkan suara mereka untuk mengumpulkan uang di plastik-plastik yang mereka bawa.

Kaum Marjinal, tanggung jawab Kita

    Paparan diatas adalah perjuangan kaum marjinal yang mungkin seringkali kita mengabaikannya. Ada suatu kalimat dari Mother Terresa,pejuang dan tokoh kemanusiaan dari Calcuta yang menarik untuk disimak.

    "The poor,the marginalized and the ones who are not counted, they exist because we create them. Especially by the superstructure and then by me, by you, by all of us. Consequently, it is our responsibility to help elevate them."


    Artinya, kaum miskin, kaum marjinal, dan orang-orang yang tidak diperhitungkan di masyarakat ada karena kitalah yang menciptakan mereka. Terutama oleh struktur sosial, juga oleh saya, Anda dan kita semua. Sehingga, kita mempunyai tanggung jawab untuk membantu dan mengangkat derajat mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar